Smartphone Nyatanya Tidak Cukup Pintar Untuk Bumi

dampak negatif smartphone
Smartphone atau Ponsel Pintar beberapa tahun belakangan sangat diminati dikarenakan banyaknya manfaat positif yang diberikan bagi penggunanya. Tetapi, tahukah kalian? jika smartphone sebenarnya memiliki dampak negatif bagi bumi. Kenyataanya smarthphone tidak cukup pintar (ramah) untuk bumi kita. Khusus masyarakat Indonesia, sebagai salah satu negara dengan pengguna ponsel pintar yang sangat banyak seharusnya tahu tentang hal ini.

Sejak pertama kali smartphone diperkenalkan pada tahun 2007 dan sampai saat ini, sudah lebih dari 7 miliar perangkat smartphone yang diproduksi di seluruh dunia. Jumlah produksi yang begitu banyak tentunya sepadan dengan energi yang digunakan untuk memproduksi perangkat-perangkat smartphone yaitu sekitar 968 TWh (Terra-Watt Hour). Buat kalian yang belum tahu, 1 TWh = 1.000.000.000 KWh. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa penggunaan energi ini biasa saja. sungguh? kenyataannya pemakaian energi yang boros adalah salah satu pemicu terjadinya global warming (pemanasan global). Kalau sudah berbicara tentang global warming maka bahasanya sudah lebih luas lagi, efek negatifnya seperti rantai yang panjang.
dampak negatif smartphone

Penggunaan listrik dalam produksi ponsel pintar sejak tahun 2007 sebesar 968 TWh hampir setara dengan suplai listrik di daratan India dalam setahun (973 TWh di tahun 2014), begitulah kira-kira perhitungannya. Jika dipikir lagi, data di atas yang dimaksud hanya untuk memproduksi ponsel pintar, jadi bagaimana dengan perangkat lainnya untuk mendukung ponsel pintar yang disediakan oleh pihak ketiga? entahlah..

Satu perangkat smartphone dibuat dari berbagai jenis elemen (material). Beberapa elemen tersebut adalah material langkah yang berasal dari bumi seperti almunium, kobalt, emas dan lainnya. Satu perangkat smartphone memang hanya butuh material-material tersebut dalam jumlah kecil tetapi jika dikonversi ke jumlah miliaran smartphone yang diproduksi, bukanlah jumlah kecil.

Proses mendapatkannya tentu saja melalui pertambangan. Masalah pertambangan merupakan masalah yang kompleks, hampir semua pertambangan di dunia memiliki masalah dengan lingkungan hidup. jika muncul pertanyaan, lalu kenapa smartphone harus dikaitkan dengan masalah pertambangan? bukankah wajar saja jika pertambangan ada karena untuk memenuhi kebutuhan global? tentu benar, akan tetapi hal yang salah adalah tidak peduli dengan lingkungan hidup melalui kegiatan pertambangan yang berlebihan.

Peningkatan produksi smartphone dari tahun ke tahun pasti diikuti dengan peningkatan permintaan kebutuhan material pembuat smartphone. walaupun dalam beberapa kasus, material diperoleh dari bahan recycle. Selain itu, material yang sungguh tidak ramah bagi bumi adalah material untuk membuat chip memory dan processor. Proses pembuatan bahan tersebut sangat membutuhkan energi dan air yang banyak. Bagaimana dengan elektronik lain seperti laptop? ya, perangkat elektronik lain juga mengalami hal yang sama tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penggunaan smartphone maka elektronik lain tidak ada apa-apanya. Saat ini, hampir semua orang (remaja dan dewasa) memiliki smartphone, sebesar 60% secara global dan 90% di beberapa negara seperti Amerika, Korea dan Jerman.

Hal lain tentang tidak cukup pintarnya smartphone bagi bumi kita adalah waktu untuk kepemilikian smartphone yang tidak lama. Menurut penelitian, rata-rata orang menggunakan smartphone hanya salama 26 bulan dan kemudian mengganti yang baru. Tidak heran produksi smartphone sudah mencapai 7 miliar dalam waktu 10 tahun saja. Pernakah kalian berpikir kenapa ponsel sekarang mudah rusak? keuntungan produsen? entahlah..
Misalnya, banyak ponsel pintar yang tidak cukup baik dalam baterai yang digunakan. Seberapa sering kalian berpikir lebih baik mengganti smartphone baru dari pada mengganti batarai yang telah soak (payah). pemikiran yang sama juga mungkin terlintas jika terjadi pada bagian lain seperti LCD, harga yang mahal atau proses memperbaiki yang sulit dan lama, menjadi alasan kuat untuk membeli smartphone baru.

dampak negatif smartphone
sumber: greenpeace
Lantas bagaimana dengan daur ulang smartphone rusak oleh produsen, hal ini tentu saja dilakukan. Namun, proses pengiriman sampah smartphone kembali ke produsen bukanlah hal yang mudah seperti yang dibanyangkan. Menurut peneltian hanya sebesar 16% dari total e-waste (sampah elektronik) global yang berhasil didaur ulang. Sampah smarphone seringkali hanya berakhir di TPA lokal. TPA lokal bukanlah solusi untuk e-waste, seperti di Indonesia, TPA lokal banyak yang tidak dapat mengolah e-waste.

Hendaknya bagi para produsen untuk bisa berinovasi lagi untuk menciptakan smartphone yang lebih cerdas bukan hanya bagi pengguna tetapi juga untuk bumi. Hanya menciptkan smartphone yang benar-benar berkualitas, ini bisa memperpanjang lama kepemilikan smartphone. Sungguh disayangkan kasus yang terjadi pada salah satu produk dari brand smartphone terkenal, mengharuskan produsen tersebut harus menarik kembali sekitar 4,3 juta perangkat smartphone akibat kualitas perangkat pendukungnya buruk.


Daftar bacaan:

0 Response to "Smartphone Nyatanya Tidak Cukup Pintar Untuk Bumi"

Posting Komentar